Perkembangan teknologi dan penerapannya, khususnya teknologi informasi, hampir tidak dapat dibendung lagi. Tiap hari manusia tidak pernah luput bahkan menjauh dari teknologi.Hal ini sejalan dengan maksud awal penciptaannya yaitu untuk memudahkan manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya.Meskipun,pada kenyataannya, sekarang teknologi diciptakan tidak semata – mata hanya untuk menyelesaikan pekerjaan saja. Pada perkembangannya teknologi informasi yang tadinya hanya mampu dimanfaatkan oleh perusahaan – perusahaan besar saja khususnya untuk proses olah data, seiring berjalannya waktu kini dapat dirasakan oleh semua kalangan dan makin luas penggunaannya seraya mengikuti kebutuhan manusia akan kemudahan.Pada akhirnya, penggunaan teknologi informasi,Internet misalnya, tidak hanya untuk memenuhi tuntutan proses bisnis saja dalam pencarian data-data, tetapi juga sampai pada untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam bersosialisasi dan bahkan menjadi hobi / mencari kesenangan. Tentunya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Hal tersebut tentu mempunyai dampak atau implikasi terhadap pola pikir dan perilaku manusia dalam beraktifitas kesehariannya dalam bidang apa saja yang telah ter-Modernisasi oleh teknologi tersebut. Apakah dampak tersebut positif atau negatif ? Semua itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya.
Salah satu dampak yang muncul sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi adalah semakin lunturnya etika tradisional. nilai – nilai etika tradisional yang dahulu dijunjung tinggi, dianggap dan diyakini sebagai suatu keluhuran, kini diabaikan karena dianggap tidak penting lagi. Sebagai contohnya :
Contoh 1. FACEBOOK
a) Teknologi:
Internet
b) Model kerja:
Facebook adalah media jejaring sosial yang diciptakan untuk dapat berkomunikasi dengan keluarga, teman dan kolega yang berada jauh tanpa harus bertatap muka.Sejalan dengan perkembangannya Facebook digunakan juga untuk mencari teman atau kenalan. Mudah saja untuk berkomunikasi dengan menggunakan Facebook kita tinggal mengisi Box Message, Wall, ataupun Chat user yang kita inginkan. Misalkan saja kita sebagai user A dan orang yang kita inginkan dapat berkomunikasi adalah User B (penerima pesan).Ketika User A ingin berkenalan dengan User B, user A tinggal mencari nama atau email user B, meng-klik namanya, lalu klik “Add as friend”.User B akan menerima permintaan pertemanan dari User A. Jika User B meng-klik “Confirm”, maka pertemanan pun terjadi.
c) Nilai etika tradisional yang hilang
Pada proses komunikasi antara User A dan B diatas jelas sekali terlihat bahwa tidak terjadi pertemuan fisik. Hal ini tentu saja menghilangkan spirit atau jiwa dan nilai esensi dari ajang komunikasi atau sosialisasi (ikatan emosional, silahturahmi dan rasa kekeluargaan). Selain itu akan melunturkan nilai manusia sebagai makhluk social. Seseorang akan menjadi kurang peka terhadap lingkungan dan menjadi terasa memiliki dunia sendiri. Banyak orang yang enggan keluar dari rumah karena sudah merasa cukup mendapatkan informasi melalui internet. Akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan menggunakan internet. Banyak user Facebook menuangkan suasana hatinya di dalam Facebook, tidak sedikit juga semua hal yang berhubungan dengan user dapat diketahui dengan melihat Facebook user tersebut. Hal – hal inilah yang menjadi cikal bakal akan hilangnya budaya timur bangsa kita, budaya yang menjunjung rasa kekeluargaan. Nilai – nilai yang harusnya tabu untuk diketahui orang menjadi biasa di dunia Facebook. Lihat saja status user Facebook yang mengungkapkan isi hatinya, entah itu masalah pribadinya ataupun keluarganya. Masalah yang harusnya dikunci rapat – rapat dalam bingkai hatinya ternyata tertuang mudah begitu saja dalam kata – kata di Facebook. Lihat juga foto – foto user Facebook (para muslimah). Selembar kain suci yang tiap pagi hingga petang menjaganya dari mustapah ternoda begitu saja dan terasa tak berharga oleh rambutnya yang indah dalam bingkai Facebook. Perlu diketahui juga dampak negatifnya yaitu perdagangan wanita lewat Facebook serta berbagai penipuan.
Contoh 2. TOKO ONLINE
a) Teknologi:
Internet
b) Model kerja:
Toko online adalah proses jual beli melalui media Internet. Dalam proses jual beli ini, Penjual membuat Web yang berisi tentang informasi barang yang diperdagangkan. Melalui internet inilah, calon Pembeli yang posisinya berada dimana saja cukup membuka Web tersebut untuk menemukan barang yang ingin dibelinya. kemudian Pembeli tinggal meng-klik “Beli” pada barang yang ingin dibelinya dan transaksipun telah terjadi. Selanjutnya Pembeli tinggal men-transfer uang ke Penjual via Internet Banking dan Barang, melalui jasa pengiriman barang, akan sampai ke Pembeli dalam hitungan hari.
c) Nilai etika tradisional yang hilang
Pada transaksi jual beli diatas, proses jual belinya tetap dilakukan meskipun si penjual dan pembeli berada di tempat yang berbeda tanpa ada pertemuan fisik. Hal ini membuat etika dalam transaksi tradisional menjadi hilang. Beberapa etika tradisional yang hilang itu antara lain tatap muka, proses tawar menawar, silaturahmi dan rasa kekeluargaan. Tatap muka atau pertemuan fisik sangatlah penting dilakukan sebagai makhluk sosial. Apabila kita melakukan proses jual beli di pasar tradisional, kita tidak hanya melihat tatap muka antara si penjual dan pembeli yang bertransaksi saja tetapi kita akan bertatap muka dengan pembeli-pembeli dan penjual-penjual lainnya. Disinilah terjadi proses tawar menawar. Dengan bumbu – bumbu canda dan tawa proses tawar menawar pun terjadi, rasa kekeluargaan pun terbentuk dan bahkan menjadi ajang silaturahmi antara penjual dan pembeli.
Contoh lainnya adalah laundry, disitu kita juga dapat menelaah satu persatu akibat adanya teknologi. Dampak positifnya kita dapat membuat lapangan kerja baru beserta mempantu para ibu rumah tangga yang sibuk. Tapi perlu diingat ada dampak negatifnya juga yaitu membuat orang menjadi bermalas malasan (kebiasaan) sehingga menjadi budaya dalam dirinya. Serta menjadikan orang tersebut hidup boros.
Dari 3 contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan semakin berkembangnya dunia teknologi dapat berakibat positif dan negatif bagi seseorang tetapi hal tersebut tergantung dari orangnya. Apabila orang tersebut dapat memanfaatkan dengan baik akan membawa keuntungan yang baik, tapi apabila tidak dapat mengaturnya dengan baik akan berakibat fatal bagi orang tersebut dan berakibat melunturkan nilai etika tradisional pada dirinya sendiri.
Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi akan sangat tidak bijak jika dalam pengembangan dan penerapan teknologi tersebut pada akhirnya mengikis nilai – nilai kita sebagai Manusia. Semua dikembalikan pada diri kita masing – masing.