Ketika senyummu tak terbalas,
Allah telah menghitung manisnya senyummu,
Saat sapaanmu tak terjawab,
Allah tak lupa berapa kata yang kau ucap,
Saat ajakanmu tak terpenuhi, lelahmu tak akan tertinggal dicatat raqib-Nya,
Ketika kau menangis atas perihnya perjuanganmu,
Allah tak lalai menghitung berapa tetes air matamu,
Ketika mereka lari meninggalkanmu, Allah tak akan lupa menyertaimu.
Sahabat,
jika kita banyak mengeluh karena beratnya ujian kehidupan,
jika kita banyak menangis karena celaan dan cacian, jika kita menyerah dalam dakwah ini,
ingatlah, sesungguhnya Allah tidak akan salah dalam mencatat sekecil apaun pengorbanan kita di jalan ini.
Lantas,
apakah pekerjaan kita sebanding dengan karunia Allah dalam setiap desah nafas kita, dalam setiap amal ibadah kita?
Apakah kita pernah merasakan tersenyum kepada sahabat kita,
kepada keluarga kita, kepada binaan kita, kepada objek dakwah kita?
lalu mereka tidak membalas senyumanmu itu,
bahkan mengejek dan menertawakanmu atau bahkan tersenyum namun secara sinis.
Apakah pernah lisan kita menyapa kawan kita,
menyapa mad’u kita, menyapa rekan kerja kita,
menyapa semua orang dengan suara kebaikan kita setulus hati?
Namun balasan mereka jauh dari yang kita harapkan.
Mereka senantiasa acuh terhadap sapaan hangat kita,
mereka tidak peduli dengan ketulusan salam kita,
atau mereka hanya membalas tanpa ada kesan menerima dengan tulus.
Engkau mengajak semua orang kepada jalan kebaikan dengan mengorbankan jiwa bahkan harta,
dengan mengorbankan waktu dan tenaga. Balasan mereka kadang tidak peduli terhadap ajakan kita,
bahkan mereka marah-marah dan mencaci kita,dengan umpatan,hujatan dan makian yang menyakitkan.
Ajakan kita ditolak baik dengan kasar ataupun halus, dengan cacian ataupun hanya diam.
Ketika semua usaha kita dalam dakwah ini mendapat tantangan yang sangat berat,
air matamu pun jatuh perlahan,menangis karena perihnya cobaan, karena pedihnya cacian,
karena lelahnya perjuangan dan pengorbanan,
karena hanya sedikit yang menolong kita dalam mengarungi jalan ini.
Ketika aktivis dakwah yang tidak menolong kita,
ketika para penyeru itu tidak mau ikut ambil bagian dalam beratnya perjuangan.
Yakinlah, Allah tidak akan lalai terhadap hamba-Nya yang memperjuangkan agama-Nya.
Ketika senyuman tulus kita untuk teman atau objek dakwah kita tidak mendapat balasan atau senyuman,
Yakinlah Allah telah menghitung manisnya senyummu dari tulusnya hatimu.
Ketika sapaan hangat kita dibalas dengan acuh,
Yakinlah Allah telah mencatat berapa kata yang terucap dalam sapaanmu.
Ketika ajakanmu dalam kebaikan dibalas dengan keburukan,
Allah tidak pernah lengah mencatat usaha dan kerja kerasmu, meski lelah, meski resah dan gelisah.
Ketika mereka lari darimu, karena tidak mau mengikuti dalam keb aikan dan kebenaran,
Yakinlah Allah tidak akan meninggalkanmu.
Ketika kita menangis karena perihnya cobaan dalam dakwah ini,
Yakinlah, Allah tidak akan pernah lalai menghitung tiap tetes air matamu.
Maka, jangan pernah berkeluh kesah, dan jangan pernah takut dalam berjuang di jalan-Nya,
karena Allah beserta orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya,
karena Allah akan menolong dan meneguhkan pendiriannya, Karena Allah telah menjanjikan surga bagi hamba-hamba-Nya.
Semoga kita semakin teguh di jalan ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam dakwah ini.
Dan semoga petunjuk dan pertolongan Allah senantiasa menyertai kita dalam lelahnya jiwa ini,
dalam beratnya ujian ini, dalam sakitnya siksaan ini.
Semoga kita digolongkan menjadi para penghuni surga tertinggi di surga Firdaus. Amin
Rabu, 16 Juni 2010
Senin, 14 Juni 2010
MEMBANGUN ETIKA SEJAK DINI
Banyak orang yang berbicara tentang etika. Akan tetapi banyak juga orang yang belum mengerti akan makna dibalik kata etika itu sendiri. Etika diartikan sebagai kebiasaan hidup yang baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan aturan tentang bagaimana manusia harus hidup yang baik sebagai manusia. Etika merupakan ajaran yang berisikan perintah dan larangan tentang baik buruknya perilaku manusia, baik perilaku kepada sesama manusia, perilaku kepada alam, perilaku kepada tuhannya. Kaidah, norma dan aturan - aturannya sesungguhnya ingin mengungkapkan, menjaga, dan melestarikan nilai tertentu, yaitu apa yang dianggap baik dan penting. Etika dalam diri seseorang tidak begitu saja ada ketika dewasa. Perlu penanaman etika tersebut sejak dini agar dicapai hasil yang baik. Penanaman etika sejak dini kepada anak akan menjadikan hidup anak tersebut lebih berharga dan bermakna.
Membangun etika tidak semudah membangun sebuah rumah idaman. Akan tetapi pada prinsipnya mempunyai kesamaan yaitu sama – sama butuh perencanaan yang matang, pondasi yang kokoh serta berbagai perabotan untuk mengisi rumah tersebut agar nampak cantik dan elok untuk dipandang. Membangun etika bisa dilakukan dimana saja baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Peranan keluarga khususnya para orang tua adalah yang paling utama dalam membangun etika seorang anak sejak dini.
Adapun tahapan – tahapan dalam membangun etika sejak dini adalah sebagai berikut :
1. Sentuh Indera (Penglihatan dan Pendengaran)
Anak - anak memiliki naluri untuk meniru dari apa yang ditemukan dan diamati, ini adalah proses awal pembentukan kepribadian(etika). Seluruh pengaruh yang dirasakannya baik yang dilihat dan didengar dapat dijadikan sebagai sebuah pengalaman dan pengetahuan baru. Suatu keadaan lingkungan tertentu (sekolah dan masyarakat) dapat memberikan pengalaman baru yang dipahami oleh mereka. Bagaimana kita mengerti proses yang terjadi tersebut sebagai suatu yang wajar dan alamiah, sehingga dalam upaya memberikan pendidikan mengenai etika akan lebih berhasil. Disinilah peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam membangun etika si anak. Diharapkan dengan contoh – contoh yang baik akan menjadikan si anak meniru perilaku yang baik itu pula. Misalnya memberi pengemis uang (memberi contoh anak untuk gemar bersedekah), mengajak anak beribadah, tidak berkelahi, tidak membuang sampah sembarangan, menghormati orang tua, figuritas dsb.
2. Sentuh Hati atau Perasaan
Hati anak kecil adalah suci, terdapat kepolosan dalam diri anak kecil. Jika kita tanamkan kebaikkan maka hasilnya akan baik. Jika kita tanamkan keburukan maka hasilnya buruk. Disinilah tahapan selanjutnya setelah kita menyentuh indera mereka. Sesuatu perbuatan yang mereka lakukan, mereka lihat, mereka temukan pasti ada nilainya. Sentuh hati disini adalah dimaksudkan pemberian kesadaran serta pemberian alasan kepada si anak tentang sesuatu hal yang dilakukannya. Sentuh hati disini tidak dilakukan secara kasar atau otoriter. Tapi secara perlahan – lahan beserta pemberian contoh kepada anak. Contoh sentuh hati adalah mengajak anak ke panti asuhan. Disini kita mengajarkan kepada anak tentang rasa syukur atas karunia yang tuhan berikan.
Program apa saja yang dapat membentuk etika sejak dini adalah
1. Tanamkan Moral Agama Pada Anak
Disini anak lebih ditekankan agar berperilaku baik sesuai agama yang dipeluknya. Dengan agama akhlak seorang anak dibangun. Rasa sayangnya kepada tuhan dengan ibadahnya, tindakannya kepada sesama manusia dan sikapnya kepada alam. Setiap tindakannya dilihat oleh tuhan dan akan mendapatkan ganjaran (berupa pahala dan dosa). Disini pribadi seorang anak dibangun seperti sikap jujur, adil, tidak sombong, dsb.
2. Mengembangkan Kepekaan Sosial
Empati merupakan upaya memahami posisi seseorang dan apa yang dirasakannya. Dengan kata lain, empati lebih dari sekadar rasa kasihan, karena di dalamnya terdapat makna untuk menghargai dan menghormati orang di sekitarnya. Itulah sebabnya, bagi para orangtua, membangun pemahaman anak terhadap empati lebih penting artinya dibandinglan sekadar memberikan materi kepada orang lain (misalnya pada pengemis) hanya karena kasihan. Caranya bisa beragam dan akan lebih mengena bila si anak mengalaminya secara langsung. Misalnya, merayakan ulang tahun bersama anak-anak panti asuhan, membagikan sembako pada para pengungsi bencana alam di tenda-tenda pengungsian, ataupun menyumbangkan alat baca-tulis pada anak-anak jalanan.
Pada dasarnya, setiap manusia dibekali sifat welas asih untuk saling membantu dan menyayangi antara sesama manusia, sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Melalui kegiatan sosial tersebut, anak tidak hanya melihat potret kehidupan orang lain, tetapi belajar untuk peduli dan memahami bahwa banyak anak-anak yang tidak seberuntung dirinya. Dengan begitu, empati dan kepekaan sosialnya dapat terasah. Perlu diingat, empati amat erat kaitannya dengan kepekaan atau kecerdasan sosial sehingga perlu ditanamkan sejak kecil dalam membangun etika.
3. Bebas tapi bertanggung jawab
Anak bebas melakukan tindakan apapun asal sesuai dengan norma – norma yang ada serta didasari rasa tanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukannnya.
Membangun etika tidak semudah membangun sebuah rumah idaman. Akan tetapi pada prinsipnya mempunyai kesamaan yaitu sama – sama butuh perencanaan yang matang, pondasi yang kokoh serta berbagai perabotan untuk mengisi rumah tersebut agar nampak cantik dan elok untuk dipandang. Membangun etika bisa dilakukan dimana saja baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Peranan keluarga khususnya para orang tua adalah yang paling utama dalam membangun etika seorang anak sejak dini.
Adapun tahapan – tahapan dalam membangun etika sejak dini adalah sebagai berikut :
1. Sentuh Indera (Penglihatan dan Pendengaran)
Anak - anak memiliki naluri untuk meniru dari apa yang ditemukan dan diamati, ini adalah proses awal pembentukan kepribadian(etika). Seluruh pengaruh yang dirasakannya baik yang dilihat dan didengar dapat dijadikan sebagai sebuah pengalaman dan pengetahuan baru. Suatu keadaan lingkungan tertentu (sekolah dan masyarakat) dapat memberikan pengalaman baru yang dipahami oleh mereka. Bagaimana kita mengerti proses yang terjadi tersebut sebagai suatu yang wajar dan alamiah, sehingga dalam upaya memberikan pendidikan mengenai etika akan lebih berhasil. Disinilah peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam membangun etika si anak. Diharapkan dengan contoh – contoh yang baik akan menjadikan si anak meniru perilaku yang baik itu pula. Misalnya memberi pengemis uang (memberi contoh anak untuk gemar bersedekah), mengajak anak beribadah, tidak berkelahi, tidak membuang sampah sembarangan, menghormati orang tua, figuritas dsb.
2. Sentuh Hati atau Perasaan
Hati anak kecil adalah suci, terdapat kepolosan dalam diri anak kecil. Jika kita tanamkan kebaikkan maka hasilnya akan baik. Jika kita tanamkan keburukan maka hasilnya buruk. Disinilah tahapan selanjutnya setelah kita menyentuh indera mereka. Sesuatu perbuatan yang mereka lakukan, mereka lihat, mereka temukan pasti ada nilainya. Sentuh hati disini adalah dimaksudkan pemberian kesadaran serta pemberian alasan kepada si anak tentang sesuatu hal yang dilakukannya. Sentuh hati disini tidak dilakukan secara kasar atau otoriter. Tapi secara perlahan – lahan beserta pemberian contoh kepada anak. Contoh sentuh hati adalah mengajak anak ke panti asuhan. Disini kita mengajarkan kepada anak tentang rasa syukur atas karunia yang tuhan berikan.
Program apa saja yang dapat membentuk etika sejak dini adalah
1. Tanamkan Moral Agama Pada Anak
Disini anak lebih ditekankan agar berperilaku baik sesuai agama yang dipeluknya. Dengan agama akhlak seorang anak dibangun. Rasa sayangnya kepada tuhan dengan ibadahnya, tindakannya kepada sesama manusia dan sikapnya kepada alam. Setiap tindakannya dilihat oleh tuhan dan akan mendapatkan ganjaran (berupa pahala dan dosa). Disini pribadi seorang anak dibangun seperti sikap jujur, adil, tidak sombong, dsb.
2. Mengembangkan Kepekaan Sosial
Empati merupakan upaya memahami posisi seseorang dan apa yang dirasakannya. Dengan kata lain, empati lebih dari sekadar rasa kasihan, karena di dalamnya terdapat makna untuk menghargai dan menghormati orang di sekitarnya. Itulah sebabnya, bagi para orangtua, membangun pemahaman anak terhadap empati lebih penting artinya dibandinglan sekadar memberikan materi kepada orang lain (misalnya pada pengemis) hanya karena kasihan. Caranya bisa beragam dan akan lebih mengena bila si anak mengalaminya secara langsung. Misalnya, merayakan ulang tahun bersama anak-anak panti asuhan, membagikan sembako pada para pengungsi bencana alam di tenda-tenda pengungsian, ataupun menyumbangkan alat baca-tulis pada anak-anak jalanan.
Pada dasarnya, setiap manusia dibekali sifat welas asih untuk saling membantu dan menyayangi antara sesama manusia, sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Melalui kegiatan sosial tersebut, anak tidak hanya melihat potret kehidupan orang lain, tetapi belajar untuk peduli dan memahami bahwa banyak anak-anak yang tidak seberuntung dirinya. Dengan begitu, empati dan kepekaan sosialnya dapat terasah. Perlu diingat, empati amat erat kaitannya dengan kepekaan atau kecerdasan sosial sehingga perlu ditanamkan sejak kecil dalam membangun etika.
3. Bebas tapi bertanggung jawab
Anak bebas melakukan tindakan apapun asal sesuai dengan norma – norma yang ada serta didasari rasa tanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukannnya.
Langganan:
Postingan (Atom)