Rabu, 16 Juni 2010

BERSULAM CINTA DAN ALLAH MENYERTAIMU

Ketika senyummu tak terbalas,
Allah telah menghitung manisnya senyummu,
Saat sapaanmu tak terjawab,
Allah tak lupa berapa kata yang kau ucap,
Saat ajakanmu tak terpenuhi, lelahmu tak akan tertinggal dicatat raqib-Nya,
Ketika kau menangis atas perihnya perjuanganmu,
Allah tak lalai menghitung berapa tetes air matamu,
Ketika mereka lari meninggalkanmu, Allah tak akan lupa menyertaimu.


Sahabat,
jika kita banyak mengeluh karena beratnya ujian kehidupan,
jika kita banyak menangis karena celaan dan cacian, jika kita menyerah dalam dakwah ini,
ingatlah, sesungguhnya Allah tidak akan salah dalam mencatat sekecil apaun pengorbanan kita di jalan ini.


Lantas,
apakah pekerjaan kita sebanding dengan karunia Allah dalam setiap desah nafas kita, dalam setiap amal ibadah kita?

Apakah kita pernah merasakan tersenyum kepada sahabat kita,
kepada keluarga kita, kepada binaan kita, kepada objek dakwah kita?
lalu mereka tidak membalas senyumanmu itu,
bahkan mengejek dan menertawakanmu atau bahkan tersenyum namun secara sinis.

Apakah pernah lisan kita menyapa kawan kita,
menyapa mad’u kita, menyapa rekan kerja kita,
menyapa semua orang dengan suara kebaikan kita setulus hati?
Namun balasan mereka jauh dari yang kita harapkan.
Mereka senantiasa acuh terhadap sapaan hangat kita,
mereka tidak peduli dengan ketulusan salam kita,
atau mereka hanya membalas tanpa ada kesan menerima dengan tulus.


Engkau mengajak semua orang kepada jalan kebaikan dengan mengorbankan jiwa bahkan harta,
dengan mengorbankan waktu dan tenaga. Balasan mereka kadang tidak peduli terhadap ajakan kita,
bahkan mereka marah-marah dan mencaci kita,dengan umpatan,hujatan dan makian yang menyakitkan.
Ajakan kita ditolak baik dengan kasar ataupun halus, dengan cacian ataupun hanya diam.


Ketika semua usaha kita dalam dakwah ini mendapat tantangan yang sangat berat,
air matamu pun jatuh perlahan,menangis karena perihnya cobaan, karena pedihnya cacian,
karena lelahnya perjuangan dan pengorbanan,
karena hanya sedikit yang menolong kita dalam mengarungi jalan ini.
Ketika aktivis dakwah yang tidak menolong kita,
ketika para penyeru itu tidak mau ikut ambil bagian dalam beratnya perjuangan.

Yakinlah, Allah tidak akan lalai terhadap hamba-Nya yang memperjuangkan agama-Nya.
Ketika senyuman tulus kita untuk teman atau objek dakwah kita tidak mendapat balasan atau senyuman,
Yakinlah Allah telah menghitung manisnya senyummu dari tulusnya hatimu.


Ketika sapaan hangat kita dibalas dengan acuh,
Yakinlah Allah telah mencatat berapa kata yang terucap dalam sapaanmu.
Ketika ajakanmu dalam kebaikan dibalas dengan keburukan,
Allah tidak pernah lengah mencatat usaha dan kerja kerasmu, meski lelah, meski resah dan gelisah.
Ketika mereka lari darimu, karena tidak mau mengikuti dalam keb aikan dan kebenaran,
Yakinlah Allah tidak akan meninggalkanmu.
Ketika kita menangis karena perihnya cobaan dalam dakwah ini,
Yakinlah, Allah tidak akan pernah lalai menghitung tiap tetes air matamu.


Maka, jangan pernah berkeluh kesah, dan jangan pernah takut dalam berjuang di jalan-Nya,
karena Allah beserta orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya,
karena Allah akan menolong dan meneguhkan pendiriannya, Karena Allah telah menjanjikan surga bagi hamba-hamba-Nya.


Semoga kita semakin teguh di jalan ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam dakwah ini.
Dan semoga petunjuk dan pertolongan Allah senantiasa menyertai kita dalam lelahnya jiwa ini,
dalam beratnya ujian ini, dalam sakitnya siksaan ini.
Semoga kita digolongkan menjadi para penghuni surga tertinggi di surga Firdaus. Amin

Senin, 14 Juni 2010

MEMBANGUN ETIKA SEJAK DINI

Banyak orang yang berbicara tentang etika. Akan tetapi banyak juga orang yang belum mengerti akan makna dibalik kata etika itu sendiri. Etika diartikan sebagai kebiasaan hidup yang baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan aturan tentang bagaimana manusia harus hidup yang baik sebagai manusia. Etika merupakan ajaran yang berisikan perintah dan larangan tentang baik buruknya perilaku manusia, baik perilaku kepada sesama manusia, perilaku kepada alam, perilaku kepada tuhannya. Kaidah, norma dan aturan - aturannya sesungguhnya ingin mengungkapkan, menjaga, dan melestarikan nilai tertentu, yaitu apa yang dianggap baik dan penting. Etika dalam diri seseorang tidak begitu saja ada ketika dewasa. Perlu penanaman etika tersebut sejak dini agar dicapai hasil yang baik. Penanaman etika sejak dini kepada anak akan menjadikan hidup anak tersebut lebih berharga dan bermakna.
Membangun etika tidak semudah membangun sebuah rumah idaman. Akan tetapi pada prinsipnya mempunyai kesamaan yaitu sama – sama butuh perencanaan yang matang, pondasi yang kokoh serta berbagai perabotan untuk mengisi rumah tersebut agar nampak cantik dan elok untuk dipandang. Membangun etika bisa dilakukan dimana saja baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Peranan keluarga khususnya para orang tua adalah yang paling utama dalam membangun etika seorang anak sejak dini.

Adapun tahapan – tahapan dalam membangun etika sejak dini adalah sebagai berikut :
1. Sentuh Indera (Penglihatan dan Pendengaran)
Anak - anak memiliki naluri untuk meniru dari apa yang ditemukan dan diamati, ini adalah proses awal pembentukan kepribadian(etika). Seluruh pengaruh yang dirasakannya baik yang dilihat dan didengar dapat dijadikan sebagai sebuah pengalaman dan pengetahuan baru. Suatu keadaan lingkungan tertentu (sekolah dan masyarakat) dapat memberikan pengalaman baru yang dipahami oleh mereka. Bagaimana kita mengerti proses yang terjadi tersebut sebagai suatu yang wajar dan alamiah, sehingga dalam upaya memberikan pendidikan mengenai etika akan lebih berhasil. Disinilah peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam membangun etika si anak. Diharapkan dengan contoh – contoh yang baik akan menjadikan si anak meniru perilaku yang baik itu pula. Misalnya memberi pengemis uang (memberi contoh anak untuk gemar bersedekah), mengajak anak beribadah, tidak berkelahi, tidak membuang sampah sembarangan, menghormati orang tua, figuritas dsb.

2. Sentuh Hati atau Perasaan
Hati anak kecil adalah suci, terdapat kepolosan dalam diri anak kecil. Jika kita tanamkan kebaikkan maka hasilnya akan baik. Jika kita tanamkan keburukan maka hasilnya buruk. Disinilah tahapan selanjutnya setelah kita menyentuh indera mereka. Sesuatu perbuatan yang mereka lakukan, mereka lihat, mereka temukan pasti ada nilainya. Sentuh hati disini adalah dimaksudkan pemberian kesadaran serta pemberian alasan kepada si anak tentang sesuatu hal yang dilakukannya. Sentuh hati disini tidak dilakukan secara kasar atau otoriter. Tapi secara perlahan – lahan beserta pemberian contoh kepada anak. Contoh sentuh hati adalah mengajak anak ke panti asuhan. Disini kita mengajarkan kepada anak tentang rasa syukur atas karunia yang tuhan berikan.

Program apa saja yang dapat membentuk etika sejak dini adalah
1. Tanamkan Moral Agama Pada Anak
Disini anak lebih ditekankan agar berperilaku baik sesuai agama yang dipeluknya. Dengan agama akhlak seorang anak dibangun. Rasa sayangnya kepada tuhan dengan ibadahnya, tindakannya kepada sesama manusia dan sikapnya kepada alam. Setiap tindakannya dilihat oleh tuhan dan akan mendapatkan ganjaran (berupa pahala dan dosa). Disini pribadi seorang anak dibangun seperti sikap jujur, adil, tidak sombong, dsb.

2. Mengembangkan Kepekaan Sosial
Empati merupakan upaya memahami posisi seseorang dan apa yang dirasakannya. Dengan kata lain, empati lebih dari sekadar rasa kasihan, karena di dalamnya terdapat makna untuk menghargai dan menghormati orang di sekitarnya. Itulah sebabnya, bagi para orangtua, membangun pemahaman anak terhadap empati lebih penting artinya dibandinglan sekadar memberikan materi kepada orang lain (misalnya pada pengemis) hanya karena kasihan. Caranya bisa beragam dan akan lebih mengena bila si anak mengalaminya secara langsung. Misalnya, merayakan ulang tahun bersama anak-anak panti asuhan, membagikan sembako pada para pengungsi bencana alam di tenda-tenda pengungsian, ataupun menyumbangkan alat baca-tulis pada anak-anak jalanan.
Pada dasarnya, setiap manusia dibekali sifat welas asih untuk saling membantu dan menyayangi antara sesama manusia, sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Melalui kegiatan sosial tersebut, anak tidak hanya melihat potret kehidupan orang lain, tetapi belajar untuk peduli dan memahami bahwa banyak anak-anak yang tidak seberuntung dirinya. Dengan begitu, empati dan kepekaan sosialnya dapat terasah. Perlu diingat, empati amat erat kaitannya dengan kepekaan atau kecerdasan sosial sehingga perlu ditanamkan sejak kecil dalam membangun etika.

3. Bebas tapi bertanggung jawab
Anak bebas melakukan tindakan apapun asal sesuai dengan norma – norma yang ada serta didasari rasa tanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukannnya.

Sabtu, 17 April 2010

LUNTURNYA NILAI ETIKA TRADISIONAL AKIBAT TEKNOLOGI

Perkembangan teknologi dan penerapannya, khususnya teknologi informasi, hampir tidak dapat dibendung lagi. Tiap hari manusia tidak pernah luput bahkan menjauh dari teknologi.Hal ini sejalan dengan maksud awal penciptaannya yaitu untuk memudahkan manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya.Meskipun,pada kenyataannya, sekarang teknologi diciptakan tidak semata – mata hanya untuk menyelesaikan pekerjaan saja. Pada perkembangannya teknologi informasi yang tadinya hanya mampu dimanfaatkan oleh perusahaan – perusahaan besar saja khususnya untuk proses olah data, seiring berjalannya waktu kini dapat dirasakan oleh semua kalangan dan makin luas penggunaannya seraya mengikuti kebutuhan manusia akan kemudahan.Pada akhirnya, penggunaan teknologi informasi,Internet misalnya, tidak hanya untuk memenuhi tuntutan proses bisnis saja dalam pencarian data-data, tetapi juga sampai pada untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam bersosialisasi dan bahkan menjadi hobi / mencari kesenangan. Tentunya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Hal tersebut tentu mempunyai dampak atau implikasi terhadap pola pikir dan perilaku manusia dalam beraktifitas kesehariannya dalam bidang apa saja yang telah ter-Modernisasi oleh teknologi tersebut. Apakah dampak tersebut positif atau negatif ? Semua itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya.
Salah satu dampak yang muncul sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi adalah semakin lunturnya etika tradisional. nilai – nilai etika tradisional yang dahulu dijunjung tinggi, dianggap dan diyakini sebagai suatu keluhuran, kini diabaikan karena dianggap tidak penting lagi. Sebagai contohnya :

Contoh 1. FACEBOOK
a) Teknologi:
Internet

b) Model kerja:
Facebook adalah media jejaring sosial yang diciptakan untuk dapat berkomunikasi dengan keluarga, teman dan kolega yang berada jauh tanpa harus bertatap muka.Sejalan dengan perkembangannya Facebook digunakan juga untuk mencari teman atau kenalan. Mudah saja untuk berkomunikasi dengan menggunakan Facebook kita tinggal mengisi Box Message, Wall, ataupun Chat user yang kita inginkan. Misalkan saja kita sebagai user A dan orang yang kita inginkan dapat berkomunikasi adalah User B (penerima pesan).Ketika User A ingin berkenalan dengan User B, user A tinggal mencari nama atau email user B, meng-klik namanya, lalu klik “Add as friend”.User B akan menerima permintaan pertemanan dari User A. Jika User B meng-klik “Confirm”, maka pertemanan pun terjadi.

c) Nilai etika tradisional yang hilang
Pada proses komunikasi antara User A dan B diatas jelas sekali terlihat bahwa tidak terjadi pertemuan fisik. Hal ini tentu saja menghilangkan spirit atau jiwa dan nilai esensi dari ajang komunikasi atau sosialisasi (ikatan emosional, silahturahmi dan rasa kekeluargaan). Selain itu akan melunturkan nilai manusia sebagai makhluk social. Seseorang akan menjadi kurang peka terhadap lingkungan dan menjadi terasa memiliki dunia sendiri. Banyak orang yang enggan keluar dari rumah karena sudah merasa cukup mendapatkan informasi melalui internet. Akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan menggunakan internet. Banyak user Facebook menuangkan suasana hatinya di dalam Facebook, tidak sedikit juga semua hal yang berhubungan dengan user dapat diketahui dengan melihat Facebook user tersebut. Hal – hal inilah yang menjadi cikal bakal akan hilangnya budaya timur bangsa kita, budaya yang menjunjung rasa kekeluargaan. Nilai – nilai yang harusnya tabu untuk diketahui orang menjadi biasa di dunia Facebook. Lihat saja status user Facebook yang mengungkapkan isi hatinya, entah itu masalah pribadinya ataupun keluarganya. Masalah yang harusnya dikunci rapat – rapat dalam bingkai hatinya ternyata tertuang mudah begitu saja dalam kata – kata di Facebook. Lihat juga foto – foto user Facebook (para muslimah). Selembar kain suci yang tiap pagi hingga petang menjaganya dari mustapah ternoda begitu saja dan terasa tak berharga oleh rambutnya yang indah dalam bingkai Facebook. Perlu diketahui juga dampak negatifnya yaitu perdagangan wanita lewat Facebook serta berbagai penipuan.

Contoh 2. TOKO ONLINE
a) Teknologi:
Internet

b) Model kerja:
Toko online adalah proses jual beli melalui media Internet. Dalam proses jual beli ini, Penjual membuat Web yang berisi tentang informasi barang yang diperdagangkan. Melalui internet inilah, calon Pembeli yang posisinya berada dimana saja cukup membuka Web tersebut untuk menemukan barang yang ingin dibelinya. kemudian Pembeli tinggal meng-klik “Beli” pada barang yang ingin dibelinya dan transaksipun telah terjadi. Selanjutnya Pembeli tinggal men-transfer uang ke Penjual via Internet Banking dan Barang, melalui jasa pengiriman barang, akan sampai ke Pembeli dalam hitungan hari.

c) Nilai etika tradisional yang hilang
Pada transaksi jual beli diatas, proses jual belinya tetap dilakukan meskipun si penjual dan pembeli berada di tempat yang berbeda tanpa ada pertemuan fisik. Hal ini membuat etika dalam transaksi tradisional menjadi hilang. Beberapa etika tradisional yang hilang itu antara lain tatap muka, proses tawar menawar, silaturahmi dan rasa kekeluargaan. Tatap muka atau pertemuan fisik sangatlah penting dilakukan sebagai makhluk sosial. Apabila kita melakukan proses jual beli di pasar tradisional, kita tidak hanya melihat tatap muka antara si penjual dan pembeli yang bertransaksi saja tetapi kita akan bertatap muka dengan pembeli-pembeli dan penjual-penjual lainnya. Disinilah terjadi proses tawar menawar. Dengan bumbu – bumbu canda dan tawa proses tawar menawar pun terjadi, rasa kekeluargaan pun terbentuk dan bahkan menjadi ajang silaturahmi antara penjual dan pembeli.

Contoh lainnya adalah laundry, disitu kita juga dapat menelaah satu persatu akibat adanya teknologi. Dampak positifnya kita dapat membuat lapangan kerja baru beserta mempantu para ibu rumah tangga yang sibuk. Tapi perlu diingat ada dampak negatifnya juga yaitu membuat orang menjadi bermalas malasan (kebiasaan) sehingga menjadi budaya dalam dirinya. Serta menjadikan orang tersebut hidup boros.

Dari 3 contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan semakin berkembangnya dunia teknologi dapat berakibat positif dan negatif bagi seseorang tetapi hal tersebut tergantung dari orangnya. Apabila orang tersebut dapat memanfaatkan dengan baik akan membawa keuntungan yang baik, tapi apabila tidak dapat mengaturnya dengan baik akan berakibat fatal bagi orang tersebut dan berakibat melunturkan nilai etika tradisional pada dirinya sendiri.

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi akan sangat tidak bijak jika dalam pengembangan dan penerapan teknologi tersebut pada akhirnya mengikis nilai – nilai kita sebagai Manusia. Semua dikembalikan pada diri kita masing – masing.

Rabu, 31 Maret 2010

SANG AKTOR 25 M

Indonesia selalu saja menempati jajaran punggawa negera-negara di dunia yang memiliki kasus korupsi terparah. kalau tak di urutan teratas, maka tetap saja pada tiga besar klasmen kasus korupsi. Tempat teratas tetap diduduki pemuncak klasmen Bangladesh. Dulu Cina, tapi kini Indonesia selalu menguntit dibelakangnya.

Kasus yang bulan lalu santer terdengar lantang ditelinga kita kini kian lama mulai redup. Berterima kasihlah pada pegawai pajak golongan IIIA ini. Siapa peduli dengan kasus 6,7 triliyun yang tak jelas kemana ujungnya itu. Lupakan huru hara di panggung termegah di pemerintahan kita bulan lalu. Masih ingatkah kita dengan opsi C bahwa Kebijakan bailout Century dianggap kebijakan yang keliru. Setidaknya lagu yang berjudul GAYUS menjadi top hit urutan atas makanan para pencari berita di media massa. Lupakan pula rekomendasi untuk penon aktifan dua pejabat tinggi negara, Wapres Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dengan 25 Milyar rupiah kasus Century kian redup. Siapa aktor dibelakangnya???

Dialah si Gayus Halomoan Tambunan. Dengan usia belum genap sepertiga abad, dia mampu menyabet gelar sebagai salah satu pegawai negeri sipil (PNS) terkaya di Indonesia. Pegawai pajak golongan IIIA ini memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya. Ditambah rumah megah nan elok dimata berdiri kokoh pada sebidang lahan di Gading Park View. Padahal kalau dihitung dari gajinya saja setiap bulan rasanya tidak mungkin. Wow, darimana ya si Gayus bisa membangun istana semegah itu? Hmmm ^_^ … darimana ya !!! Mungkin perkataan itu yang sekarang terbesit dipikiran kita. Jangan-jangan !!!

Dengan gaji pokok dan berbagai tunjangan 2,4 juta, remunerasi sekitar 8,2 juta serta imbalan prestasi kerja rata-rata 1,5 juta apakah tidak cukup bagi Gayus untuk hidup. Di tengah situasi ekonomi yang kian sulit ini tindakannya sangat melukai wong cilik. Banyak saudara-saudara kita memeras keringat dan membanting tulang hanya demi sesuap nasi. Demi keluarga mereka, demi anak-anak mereka. Lihatlah para tukang becak, pemulung, tukang ojek, para sopir, para pembersih sampah guna menyambung hidup. Mereka relah menerjang derasnya hujan,teriknya panas matahari serta debu-debu kehidupan hanya demi uang 10 ribu sampai 40 ribu (gak sampai sejuta sebulan). Tidakkah kita miris melihat adek-adek kecil dijalanan mengemis, menyanyi, serta mejual koran. Pantaskah mimpi anak-anak kecil itu melayang begitu saja. Tak melihatkah ia bahwa para abdi negara yang rela berkorban nyawa alias mati demi negara berpenghasilhan dibawahnya.Tak terbesitkah di otak Gayus bahwa gajinya di dinas pajak itu sangatlah besar menurut mereka. Masih kurangkah ???
Lantas siapakah yang patut disalahkan atas masalah ini? Apakah kita pantas untuk menyalahkan agama untuk masalah ini? Almamater yang melahirkannya kah? Ataukah budaya orang Indonesia yang jeli melihat kesempatan itu? Mungkinkah keterlibatan keluarga?

??? hmm..
Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepala kita.

Agama !!!. Adakah ajaran agama yang berisi nilai-nilai kebaikan mengajarkan begitu? Pasti semua pemeluk agama agama di Indonesia mengatakan tidak. Pantaskah kita tetap menyalahkan ajaran agama yang bersumber dari tuhan untuk masalah si Gayus.

Hmm.. kita lewati tentang agama. Selanjutnya adalah almamater si Gayus bernaung yang mengubah hidupnya 360 derajat. Dari penghuni rumah kecil menjadi penghuni rumah megah bak ‘istana’di kelapa gading. Kuliah dimana sih si Gayus ??? pasti semua sudah mengetahuinya. Semua mata saat ini tertuju pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang menjadi almamater si Gayus. Melihat sepak terjang STAN selama ini yang mencetak abdi Negara yang hebat. Dengan sisitem perekrutan yang begitu selektif untuk dapat mengenyam pendidikan di institusi tersebut. Pantaskah kita menodai citra yang terbentuk selama ini hanya karena seorang Gayus.

Keluarga !!! Ini adalah tolak ukur kita untuk menilai seseorang. Karena di keluargalah seseorang memperoleh pendidikan pertama sebelum terjun dalam masyarakat. Disinilah nilai-nilai agama ditanamkan untuk pertama kalinya, nilai moral dan etika pertama kali diajarkan. Dari sinilah awal watak dan perilaku seseorang mulai terbentuk. Dan untuk merubahnya setelah dewasa sangatlah sulit. Dibutuhkan faktor yang sangat besar untuk merubah itu semua. Tidak menutup kemungkinan dari sinilah latar belakang Gayus melakukannya. Hanya butuh 10 tahun dia mampu menjelma menjadi seorang milyader. Mungkin dari istri, anak bahkan mertuanya ia melakukannya. Semua dugaan tentang keluarga itu akan sirna jika seseorang mampu mengendalikan emosi dan nafsu dalam dirinya jika dibentengi agama yang kuat. Godaan keluarga dan budaya dapat diatasi jika seseorang mempunyai kekuatan yang besar yaitu iman. Dengan iman seseorang akan lebih takut hukuman akhirat dibandingkan dengan hukuman penjara jika melakukannya karena mereka sadar kekekalan hukuman itu. Dengan pengetahuan agama yang melimpah seseorang akan menjadi pribadi yang elok dimata masyarakat bahkan tuhan dengan ibadah-ibadahnya. Sehingga pentingnya ilmu agama terutama akhlak sangatlah membantu untuk mengarungi hidup yang kejam ini. Seseorang akan tetap kokoh berdiri dengan menjujung niali-nilai kebenaran agamanya meski badai godaan menerjangnya. Dengan pendidikan agama dari kecil diharapkan tidak akan muncul Gayus-Gayus lainnya yang membuat wong cilik sakit hati lagi.