Rabu, 31 Maret 2010

SANG AKTOR 25 M

Indonesia selalu saja menempati jajaran punggawa negera-negara di dunia yang memiliki kasus korupsi terparah. kalau tak di urutan teratas, maka tetap saja pada tiga besar klasmen kasus korupsi. Tempat teratas tetap diduduki pemuncak klasmen Bangladesh. Dulu Cina, tapi kini Indonesia selalu menguntit dibelakangnya.

Kasus yang bulan lalu santer terdengar lantang ditelinga kita kini kian lama mulai redup. Berterima kasihlah pada pegawai pajak golongan IIIA ini. Siapa peduli dengan kasus 6,7 triliyun yang tak jelas kemana ujungnya itu. Lupakan huru hara di panggung termegah di pemerintahan kita bulan lalu. Masih ingatkah kita dengan opsi C bahwa Kebijakan bailout Century dianggap kebijakan yang keliru. Setidaknya lagu yang berjudul GAYUS menjadi top hit urutan atas makanan para pencari berita di media massa. Lupakan pula rekomendasi untuk penon aktifan dua pejabat tinggi negara, Wapres Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dengan 25 Milyar rupiah kasus Century kian redup. Siapa aktor dibelakangnya???

Dialah si Gayus Halomoan Tambunan. Dengan usia belum genap sepertiga abad, dia mampu menyabet gelar sebagai salah satu pegawai negeri sipil (PNS) terkaya di Indonesia. Pegawai pajak golongan IIIA ini memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya. Ditambah rumah megah nan elok dimata berdiri kokoh pada sebidang lahan di Gading Park View. Padahal kalau dihitung dari gajinya saja setiap bulan rasanya tidak mungkin. Wow, darimana ya si Gayus bisa membangun istana semegah itu? Hmmm ^_^ … darimana ya !!! Mungkin perkataan itu yang sekarang terbesit dipikiran kita. Jangan-jangan !!!

Dengan gaji pokok dan berbagai tunjangan 2,4 juta, remunerasi sekitar 8,2 juta serta imbalan prestasi kerja rata-rata 1,5 juta apakah tidak cukup bagi Gayus untuk hidup. Di tengah situasi ekonomi yang kian sulit ini tindakannya sangat melukai wong cilik. Banyak saudara-saudara kita memeras keringat dan membanting tulang hanya demi sesuap nasi. Demi keluarga mereka, demi anak-anak mereka. Lihatlah para tukang becak, pemulung, tukang ojek, para sopir, para pembersih sampah guna menyambung hidup. Mereka relah menerjang derasnya hujan,teriknya panas matahari serta debu-debu kehidupan hanya demi uang 10 ribu sampai 40 ribu (gak sampai sejuta sebulan). Tidakkah kita miris melihat adek-adek kecil dijalanan mengemis, menyanyi, serta mejual koran. Pantaskah mimpi anak-anak kecil itu melayang begitu saja. Tak melihatkah ia bahwa para abdi negara yang rela berkorban nyawa alias mati demi negara berpenghasilhan dibawahnya.Tak terbesitkah di otak Gayus bahwa gajinya di dinas pajak itu sangatlah besar menurut mereka. Masih kurangkah ???
Lantas siapakah yang patut disalahkan atas masalah ini? Apakah kita pantas untuk menyalahkan agama untuk masalah ini? Almamater yang melahirkannya kah? Ataukah budaya orang Indonesia yang jeli melihat kesempatan itu? Mungkinkah keterlibatan keluarga?

??? hmm..
Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepala kita.

Agama !!!. Adakah ajaran agama yang berisi nilai-nilai kebaikan mengajarkan begitu? Pasti semua pemeluk agama agama di Indonesia mengatakan tidak. Pantaskah kita tetap menyalahkan ajaran agama yang bersumber dari tuhan untuk masalah si Gayus.

Hmm.. kita lewati tentang agama. Selanjutnya adalah almamater si Gayus bernaung yang mengubah hidupnya 360 derajat. Dari penghuni rumah kecil menjadi penghuni rumah megah bak ‘istana’di kelapa gading. Kuliah dimana sih si Gayus ??? pasti semua sudah mengetahuinya. Semua mata saat ini tertuju pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang menjadi almamater si Gayus. Melihat sepak terjang STAN selama ini yang mencetak abdi Negara yang hebat. Dengan sisitem perekrutan yang begitu selektif untuk dapat mengenyam pendidikan di institusi tersebut. Pantaskah kita menodai citra yang terbentuk selama ini hanya karena seorang Gayus.

Keluarga !!! Ini adalah tolak ukur kita untuk menilai seseorang. Karena di keluargalah seseorang memperoleh pendidikan pertama sebelum terjun dalam masyarakat. Disinilah nilai-nilai agama ditanamkan untuk pertama kalinya, nilai moral dan etika pertama kali diajarkan. Dari sinilah awal watak dan perilaku seseorang mulai terbentuk. Dan untuk merubahnya setelah dewasa sangatlah sulit. Dibutuhkan faktor yang sangat besar untuk merubah itu semua. Tidak menutup kemungkinan dari sinilah latar belakang Gayus melakukannya. Hanya butuh 10 tahun dia mampu menjelma menjadi seorang milyader. Mungkin dari istri, anak bahkan mertuanya ia melakukannya. Semua dugaan tentang keluarga itu akan sirna jika seseorang mampu mengendalikan emosi dan nafsu dalam dirinya jika dibentengi agama yang kuat. Godaan keluarga dan budaya dapat diatasi jika seseorang mempunyai kekuatan yang besar yaitu iman. Dengan iman seseorang akan lebih takut hukuman akhirat dibandingkan dengan hukuman penjara jika melakukannya karena mereka sadar kekekalan hukuman itu. Dengan pengetahuan agama yang melimpah seseorang akan menjadi pribadi yang elok dimata masyarakat bahkan tuhan dengan ibadah-ibadahnya. Sehingga pentingnya ilmu agama terutama akhlak sangatlah membantu untuk mengarungi hidup yang kejam ini. Seseorang akan tetap kokoh berdiri dengan menjujung niali-nilai kebenaran agamanya meski badai godaan menerjangnya. Dengan pendidikan agama dari kecil diharapkan tidak akan muncul Gayus-Gayus lainnya yang membuat wong cilik sakit hati lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar